21
Jun
J’ai le goût de vous dire “Ce sont La France! Le Français! et Les Français!
(Aku seperti ingin mengatakan “Ini negara perancis, bahasa Perancis, dan orang -orang Perancis”)
Tepatnya sekarang, 3 minggu sebelum balik ke Indonesia, aku (yeuhh akuuu, gapapalah biar enak dibacanya buat semua kalangan hehe) akan bercerita mengenai petualangan berAFS ria di negara mantan penjajah, meskipun cuma sebentar sih, negara PERANCIS!
teringat jaman dulu kala ketika aku masih unyu, satu tahun lalu :’), tanggal 3 september 2010, akupun melangkahkan kakiku ke negeri pusat mode dunia ini.
Dengan berbekal pengetahuan yang cukup sederhana, bisa dibilang kalo dalam bahasa Inggris itu “innocent”, engga lupa untuk memanjatkan harapan-harapan baik sebelum berangkat, biar ga rugi asli. Tapi yang lebih terpenting, insya Allah aku gabakalan berubah secara negatif, begitu aku pulang ke Tanah air tercinta, Indonesia. Lebih bagus lagi kalo mindsetku jauh di-set lebih dewasa, dan memahami perbedaan. PENTING banget.
Tapi eitss jangan lupa aku kesini juga untuk menjalankan misi “memperkenalkan budaya Indonesia” di mata orang-orang Perancis”. Engga hanya jalan2 dan main2 aja mentang2 tinggal di Eropa. Yang sampai sekarang kepikirian hanyalah, Tuhan meanugrahkanku dan mempercayakan tugas “super berat ini “, padahal masih ada orang yang jauh lebih berbakat dan cerdas, tapi sudahlah, apapun keputusannya aku bersyukur banget udah dikasih kesempatan buat kesini. Dan begimanapun, mungkin Tuhan punya rencana tersembunyi buatku kedepannya. Dan Tuhan pasti percaya aku bisa melakukannya, harus positif thinking terus dong! ![]()
Sejujurnya, honestly! franchment! ehrlich!
Tahun lalu, aku sama sekali engga bisa ngomong perancis. Di SMANSA Depok, aku hanya mempelajari bahasa Inggris dan Jepang. C’est nul ça pour le français au début , de toute façon! ZERO! Entah mau gimana caranya akupun mencari kursus Perancis, harus kursus kalo nanti disananya gamau kicep. Tapi yang ada dibayangan, mau kursus sekalipun pas nyampe di Perancisnya tetep aja kalau orang ngomong, ga ngerti. Anyway, belajar bahasa asing butuh pembiasaan listening dari native speaker!
Aku aja yang udah bertahun-tahun belajar bahasa Inggris di LBPP LIA dari smp masih butuh nonton film-film asing buat pembiasaan telinga. Gimana bahasa Perancis, yang katanya termasuk bahasa tersulit didunia, lebih sulit dari bahasa Inggris, baik pronounciationnya, cara penulisannya, casual conversationnya, belom pernah aku denger sama sekali di telinga (terkecuali: Bonjour! Salut! dan merci!) OMG!!!
Akupun semakin tertantang untuk belajar bahasa ini, bahasa Perancis itu indah, elegant, dan tentu aja sulit. Tahukah anda jikalau bahasa ini digunakan sebagai bahasa diplomatik, dan PBB? Kalau jaman dahulu kala di kalangan kerajaan Inggris, terkadang mereka berbicara bahasa Perancis, karena dulu negara Inggris dan perancis menjalin hubungan yang baik sebelum perang dunia kesatu. Sebagai gambaran, kalo yang udah nonton film “The Other Boleyn Girl”, gadis-gadis Inggris keturunan bangsawan dianjurkan untuk belajar bahasa Perancis, karena mereka anggap bahasa Perancis itu elegant, dan orang yang mempelajari bahasa perancis dianggap keturunan bangsawan. Terkadang gadis2 Inggris itu dikirim ke Perancis untuk belajar bahasa Perancis dari kerajaan Perancis. Dan kisah itu memang terbukti BENAR.
Untuk yang seneng gossip, mungkin kalian tau banget seluk beluk dua ikons orang Inggris yang kemaren baru menikah. Yaps! Prince William and Catherine Middleton! Dalam pesta pernikahan mereka yang amat sangat, megah dan meriah, makanan dan minuman yang serba Inggris, ini itu serba Inggris, peralatan makanan, semua semuanya made in Great Britain tapi info-info makanannya dan minumannya tertulis dalam bahasa Perancis, tanpa terjemahan in English. sampai saat ini kebudayaan Perancis masih disegani oleh keluarga kerajaan Inggris. Okeh, sekian untuk memperkenalkan tentang bahasa Perancis. Tapi yang jelas engga mudah di awal, untuk mempelajarinya dalam tempo yang sesingkat singkatnya, butuh usaha, doa, sama ridho dari yang kuasa buat menggapai semuanya. Sakit dan perih pun mulai aku alami dari awal, tapi jujur aku suka bahasa Perancis!
“au début, C’est la volonté, à la fin, c’est le plaisir”
(Diawali dengan yang namanya, kemauan, niat dan kesakitan, dan pada akhirnya hanya tinggal kesenangan semata)
tetereeettt just got in my mind!
Pada akhirnya aku percaya hari dimana aku akan berbicara bahasa Perancis cas cis cus, layaknya bahasa Inggris yang pernah aku pelajari. Sudah saatnya dimana aku belajar bahasa asing lain selain bahasa Inggris. Et le français est mon choix! car Je sais que cette langue est très connue, élegante, difficile. Ca sera amusante! yipiyyy! ![]()
Ditambah lagi, jarang di Indonesia orang yang berbicara dengan bahasa Perancis. J’ai trooop de la chance! Pulang-pulang dari perancis dengan bermodalkan AFS setahun, bisa memberikan kursus bahasa Perancis kalo udah kuliah. Lumayan bisa sambil kuliah nambah penghasilan he he he. Oke oke stop rai! Pokonya banyak keuntungan kalo udah fasih berbahasa Perancis.
Kira-kira gambar ini menjelaskan seperti:
I am
You are
She/he is
We are
They are
bedanya kalau di bahasa perancis itu dibedain cewek dan cowok singular, cewek dan cowok plural. verba to be nya juga beda- beda, beda tensesnya beda verb to be nya cuman lebih complicated. Tensesnya juga lebih banyak. Hmm.. okay! aku ngerti kalau ngeliatin kaya gini aja bikin otak meledak. Aku juga dulu kaya gitu, sedikit demi sedikit dimulai pembiasaan. Jangan dipikir mudah pembiasaan-pembiasaan kaya gini dibulan bulan pertama di Perancis. Belajar bener-bener dari zero! kaya anak bayi yang baru belajar berbicara. Tapi normal lah, kaya waktu SD ketika aku masih dikepang dua atau dikuncir kuda yang senang mempelajari bahasa Inggris tingkat dasar.
Karena aku suka belajar bahasa Perancis, setiap kesulitan yang aku dapet untuk mempelajarinya itu berkah ![]()
Waktu tiba di Paris tanggal 3 September 2010, bertepatan dengan tanggal orientasi awal AFS France, akupun mulai bertemu dengan teman-teman seperjuangan AFS dari seluruh dunia, otomatis bahasa yang dipake waktu pertama kali dateng adalah bahasa Inggris. Soalnya rata-rata dari kami, belom ada yang berbicara bahasa Perancis fasih. Inget banget waktu itu aku ngomong sama orang Italia, Selandia baru, Swedia, Amerika, Australia, Jepang, Cina, , Latinos, dan orang-orang Eropa (non Perancis). Ada yang udah mempelajari bahasa Perancis bertahun-tahun, ada yang bener-bener nol gapernah ngambil kursus atau apapun. Sangat beragam! Tapi aku punya kesimpulan lain, kami semua sama, datang ke Perancis untuk mempelajari bahasa Perancis.
Kemudian kami diajak dengan bus, mengelilingi kota Paris, termasuk liat La Tour Eiffel, La musée Louvre, Notre dame de Paris, Orsay, gedung-gedung teater klasik yang katanya berkocek ratusan euro kalo mau nonton (termasuk mahal gela), La Place Concorde, L’arc de triomphe, sama jembatan Alexandre III yang terbuat dari emas dekorasinya dan lain-lain. waktu itu masih musim panas, orang-orang tumpah ruah ke jalanan dengan pakaian yang supermodis, merah, kuning, rok bunga-bunga, dengan red, yellow sunglasses, wow ngejreng! disinilah kalo dibilang ajang unjuk diri soal mode, mau pake rok pendek silahkan, jeans silahkan, disaat itupun aku mengambil kesimpulan: Paris itu indah dan beragam warna, tapi macet parah kaya Jakarta, susah parkir mobil, dan cenderung engga beraturan. Bangunan bangunan pemerintahan yang dipakai sekarang itu sebenernya bekas bangunan2 pemerintahan masa Napoléon, taun jebot banget. Tapi jangan disamain sama bangunan berdinding kaca retak-retak juga -,-” masih ada dekorasi dekorasi kerajaan, dengan patung-patung masa masa kemenangan Napoléon ketika perang . Mereka masih menjaga keaslian bangunan dari jaman sebelum revolusi Perancis. Hebatnya Paris itu!
GRENOBLE , J’Y ARRIVE!!


Aku beruntung banget bisa dapet placement di kota besar seperti Grenoble. Karna kota ini cantik banget, dikelilingi sama pegunungan Alpen. Bisa sering-sering main ski kalau musim dingin. Kota ini menyimpan banyak sejarah dan misteri. Dulunya kota ini adalah perbatasan antara Perancis, Italia, dan kekuasaan kerajaan Savoie (yang sekarang sudah ditaklukan oleh Perancis menjadi salah satu region perancis). Kota ini pula menjadi benteng pertahanan sengit tembak menembak antara Perancis dan Itali, untuk berebut wilayah kekuasaan.

Jikalau anda ingin mengambil kereta TGV dari Paris, hanya membutuhkan waktu 3 jam aja ko untuk pergi ke kota Grenoble. Kalau dari kota Lyon hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam lewat jalan tol.
Kota ini dilewati oleh sebuah sungai yang berasal dari pegunungan Alpen, namanya sungai Isère. Beneran deh kaya kota Venisianya Perancis. Cuman disini kita punya pegunungan Alpen dimana kalau musim dingin, puncaknya selalu tertutupi salju , dan banyak orang-orang yang bermain ski disini. Selain itu kalau musim panas, bener-bener panas, karna udara panasnya bener-bener terperangkap oleh pegunungan Alpen yang mengelilingi kota ini. Dan kota ini dinobatkan menjadi kota yang memiliki tingkat polusi yang tinggi menurut data yang diambil Perancis.

Ma famille d’accueil!
Aku punya keluarga angkat yang sangat baik dan menarik. Keluarga Ruppli, dan 3 hostsisters. Mereka keluarga musician dan cinta sport. Mereka tentu saja keluarga Perancis yang memiliki darah setengah Jerman dan setengah Swiss.
Nama ibu angkatku adalah Pascale Prost. Beliau memiliki darah setengah jerman (karena ibunya jerman) dan fasih berbahasa jerman dan Inggris (karena beliau pernah kuliah di Chicago,USA), walau sebenarnya aku meminta beliau untuk berbicara bahasa perancis supaya ada tantangannya, kalau ngomong bahasa Inggris terus, nanti engga maju maju Perancisnya dong. Seperti papah kandungku bilang, aku ke Perancis berarti kesempatan aku untuk terus belajar bahasa Perancis, karna nanti pas pulang ke Indonesia, aku akan benar-benar merasa kesulitan untuk berbicara bahasa Perancis di Indonesia, dan rawan “hilang” dari kepala ketika sepuluh tahun mendatang. Otomatis, engga bangetlah. Jadi kalau aku tidak mengerti tentang suatu vocabulary, aku lebih baik meminta dengan synonym perancis atau gesture. Ibu angkatku ini jago memasakkan masakan ala Perancis dan Jerman yang super enak setiap harinya. Meskipun beliau sendiri adalah wanita yang sangat sibuk berprofesi sebagai insinyur.
Nama ayah angkatku Philippe Ruppli. beliau memiliki darah seperempat swiss, karena beliau pernah bilang, kalau nama belakang Ruppli-nya adalah, nama Swiss. Beliau juga insinyur sama seperti ibu angkatku, dan tentu saja fasih berbahasa jerman, dan Inggris. Namun ayah angkatku ini memiliki kebiasaan yang menyenangkan dan gaul. Bermain gitar listrik dengan band-nya diwaktu senggang! Meski umur udah 50 tahun, semangat untuk memainkan lirik lagu The beatles dengan gitar listrik yang beliau miliki gapernah mati. Terkadang beliau konser gitar kecil-kecilan di kota. Gara-gara beliau juga, aku jadi bisa memainkan gitar akustik. Beliau yang mengajarkanku memainkan gitar dengan lagu-lagu the beatles. Dari beliau juga, aku belajar untuk selalu memanfaatkan waktu, selalu memiliki rencana kedepan, dan mengambil resiko. Beliau selalu mendidik anaknya dengan pertanyaan “vous allez faire quoi là, demain?” (apa yang kalian lakukan, esok?), kemudian lain waktunya ketika aku sedang bermain permainan monopoli ala perancis dengan hostsisters dan ayah angkatku, dan aku kurang mau mengambil resiko untuk mengambil alih permainan. “pourquoi t’as peur de ça? Il faut que tu prennes le risque, raita! allez! “ (kenapa kamu takut ngambil alih, ngambil resiko itu penting, ayo raita!)
Cecile Ruppli, itulah nama kakak perempuan angkatku. Lahir dibulan Oktober 1993, sedangkan aku Januari 1994. Jadi umurnya ga terlalu berbeda jauh. Dia adalah perempuan yang berambisi tinggi untuk menjadi insinyur dibidang ekologi, melanjutkan harapan ortu. Dia anak yang cerdas, dan rajin (banget) belajar. Tak jarang ia memperoleh nilai ulangan tertinggi di kelasnya. Anak yang memiliki moto “saya tak senang membuang waktu” ini selalu manfaatkan waktu luangnya untuk belajar, memasak, dan membagi waktu dengan teman-temannya. Suka serius, namun perhatian, sangat menyenangi olahraga renang, bermain piano dan menyenangkan.
Sophie Ruppli, nama adik perempuan angkatku ini, lebih muda satu tahun dari umurku. Dia berkacamata. Dan selalu memperoleh nilai ulangan mata pelajaran bahasa Jerman dan olahraga tertinggi di angkatan sekolahnya. Dia duduk dibangku kelas satu SMA, dan berambisi tinggi juga dalam hal pelajaran. Satu keahliannya, dia bermain klarinet, namun belom sesempurna Cecile yang telah bermain piano bertahun tahun, dan Carole yang jago memainkan flute. Dengan motonya yang harus serba “fancy”, dia mampu bergaul dengan banyak temannya. Anak ini senang sekali ngobrol, dan berbicara dengan orang, terkadang, anak ini suka dibilang cerewet oleh teman-temannya. Namun, anak ini suka serba stress jikalau nilai mata pelajaran literatur perancisnya belom mencapai angka standar yang ia inginkan. Sejauh ini, dia belom memiliki arah dan tujuan mau kuliah kemana setelah jenjang SMA terselesaikan bila kami tanya, biasa,… masih galau! Tapi dia baik banget koo jujur.
Carole Ruppli, host sister ku ini yang masih duduk dibangku SMP ini, selalu menjadi terengking satu di kelasnya dan sering memenangkan olahraga “handball” antar region Perancis. Tentu saja ia mampu memainkan alat musik flute dengan merdunya. Anak ini sangat kritis, namun normalnya anak smp yang serba ingin tahu, ia selalu menyodorkan pertanyaan-pertanyaan kritisnya kepada kedua orang tua. Tak jarang, pertanyaan-pertanyaan kritis yang ia sodorkan, bukan berbuah jawaban, namun berbuah pertanyaan-pertanyaan lagi yang membuat orang lain jengkel dan bosan untuk menjawabnya. Diapun mencintai permainan monopoli, seringkali ketika liburan sekolah tiba, ia menawarkanku dan Sophie untuk bermain monopoli dengannya. Anda tahu kapan? Dua kali sehari, setiap hari non stop. Meskipun begitu, dialah adik angkatku yang imut imut lucu jika diajak bermain monopoli, jungle speed, dan ular tangga. Terkadang Sophie dan Carole ini sering bertengkar untuk urusan sepele (baca: Sophie bosan diajak bermain dengan Carole). Namun mereka anak-anak yang lucu kalau aku liat :3 Inilah pertama kalinya, aku memiliki 3 sisters. Berbalik kenyataan ketika aku memiliki 2 adik laki-laki kandung di Tanah Air.
Oh ya satu lagi, keluarga ini memiliki seorang wanita tukang bersih-bersih rumah. Namanya Carminda. Wanita berkebangsaan Portugis ini, hampir setiap kamis datang kerumah kami untuk membersihkan rumah. Carminda ini hobi bernyanyi, ngobrol, dan berpuitis ria. Selagi beliau membersihkan karpet dengan vacum cleaner, beliau senang bernyanyi dan berkomentar baik dan buruk soal hidup dalam bahasa Portugis. Lucunya lagi, beliau menyukai bercermin! sambil bercermin di cermin tua besar yang terletak di ruang tamu, beliaupun berkomentar panjang lebar entah apa yang sebenernya dikomentarin, saya engga ngerti (layaknya seperti orang berlatih presentasi didepan cermin). Namun wanita ini sangat baik kepada saya dan keluarga Ruppli. Terkadang ketika saya sarapan, sayapun diajak mengobrol olehnya tentang homesick . Saya pun pernah homesick, begitupun juga beliau, yang selalu rindu akan negaranya, Portugis. Beliau bercerita kepada saya betapa berbedanya negara Portugis dengan Perancis.Perancis adalah negara yang engga aman dibanding Portugis. Lebih banyak copet, banyak maling yang masuk ke rumah, namun lebih banyak lapangan pekerjaan dan gaji dibanding di negaranya Portugis. Beliau mengadu nasib di Perancis sebagai wanita tukang bersih-bersih, namun beliau kelihatannya sangat enjoy dengan pekerjaannya itu sambil bernyanyi sesekali.
Rumah keluarga angkatku benar-benar besar, dan memiliki taman yang luas. Rumah mereka memiliki gaya tradisional Perancis dengan taman rambat yang merambat di dinding luar rumah. Kami memiliki kamar tidur masing-masing. Tersedia pula, dapur, ruang kerja, ruang jahit, ruang keluarga, ruangan musik, kamar mandi, dan toilet, namun kami tak memiliki TV. Mengapa kami tidak memiliki televisi? Keluarga ini menganggap bahwa dua pertiga hari yang mereka habiskan itu berada diluar rumah, bukan didalam rumah, so, ngerasa engga efektif banget kalo televisi itu ada, namun jarang sekali ditonton. Di rumah perancis, kamar mandi tidak disatukan, namun dipisah dengan toilet yang seperti biasa di rumah-rumah Indonesia. Tempat favoritku yang berada dirumah ini adalah, ruangan musik, karena aku bisa memainkan gitar akustik disana, dan dapurrr!!!!. Di dapur, aku bisa memasak sepuasnya, dan mengutak ngatik barang-barang canggih yang engga ada di Indonesia wiiiiii!. Di keluarga Perancis yang tinggal di kota besar, biasanya tersedia mesin pencuci piring otomatis, mesin pembuat kopi otomatis, pembuat roti, dll.
Dengan keluarga Ruppli, sesekali (sebenarnya sih sering) aku ditawari untuk memanjat dan hiking ke bukit Alpen yang jaraknya berkilo kilo. Inilah resiko yang harus dihadapi ketika menerima placement dikeluarga yang terlalu cinta dengan dunia olahraga. Tapi jujur, aku menikmatinya. aku jadi kurus. Saya jadi teringat, dengan kata kata ibu angkatku, “Raita, tu veux venir avec nous? , on va marcher un peu dans les Alpes, cet aprés midi” (Raita, kamu mau pergi bersama kami? kami akan berjalan sedikit di gunung Alpen, siang ini) . Yang terlintas dipikiran saya adalah berjalan sedikit. Ketika kalian melihat apa yang aku lakukan setelahnya, anda sekalian akan benar-benar merasa shock. Aku memanjat bukit Alpen yang berjarak 4 km. Menurut orang Indonesia, 4 km itu terlalu jauh untuk dipanjat. Dan aku bukan orang yang terbiasa untuk memanjat gunung. Badminton, tennis, renang, sepedah, lari marathon, rafting, basket, olahraga atletik gapapalah. Tapi waktu itu aku merasa sekujur badan kaku, pipiku memerah nyaris kehabisan nafas, kepala terasa sakit sebelah karena makin keatas, makin berkurang kadar oksigennya, dan juga karena tak terbiasa dengan dinginnya musim dingin, banyak angin salju , udah gitu manjat gunung Alpen pula! OMG! Dengan motto “saya akan lebih kurus setelah pulang dari Perancis”, aku benar-benar menikmatinya :’) Olahraga ini akan menjadi berbahaya jikalau anda kurang begitu biasa dengan angin dingin, salju, dan ketinggian, piss!

Sering pula, aku bermain ski di gunung Alpen, dan Swiss. Olahraga ski di Perancis itu, ibarat olahraga sepak bola bagi orang Indonesia. Jujur, bermain ski itu gamudah. Mungkin bisa disamain sama sepatu roda, mudah terpleset, tapi lebih sulit. Butuh keseimbangan badan, mental, dan kesigapan. Kalau terjatuh ekstrim, tulang, rawan patah. Orang Perancis biasanya untuk mendapatkan kebiasaan main ski, mereka diajarkan semenjak mereka kecil, atau ikut sekolah ski.Dari kalangan anak kecil, anak ABG, sampe kakek nenek semuanya melakukan ski dimusim dingin. Oh ya adalagi, kalau orang main ski terus terjadi kecelakaan kalau jatuh, biasanya bukan digendong orang, tapi dibawa oleh helikopter untuk pertolongan pertama, karena aksesnya yang sulit, so, bayangin jikalau saya adalah seorang yang pemula untuk bermain ski, dan saya terjatuh, saya jadi bakal kaya gini. Alhamdulilah, saya masih selamat :’)

Tapi jujur, main ski itu capek banget dan sulit, karena selain kaki anda yang bekerja, tangan juga yang ngedorong pake tongkat ski, apalagi disaat anda ingin memberhentikan, atau memperlambat laju (sepertt… lihat gambar ski yang pertama). Malem-malem bisa sakit seluruh badan ;’(
Jikalau dimusim dingin, orang-orang senang membuat boneka salju, dan main perang-perangan salju, guru jarang masuk kalau saljunya lagi tebal. Aku punya pengalaman ketika, bus tak bisa beroprasi, dan akhirnya aku dan host sister saya berjalan dari rumah sampai ke sekolah berkilo kilo meter.
Beda lagi dengan cerita diwaktu natal. Waktu itu aku dan keluarga Ruppli mengunjungi rumah nenek dan kakek di Strasbourg, France. Deket perbatasan antara Perancis dan Jerman. Lumayan lah bisa ke Jerman juga hehehehehe. Waktu itu kami ke strasbourg melewati jalur darat. Waktu itu rutenya lewat Swiss, Jerman, dan akhirnya Strasbourg. kami tidak mengambil jalur nasional soalnya lebih jauh dan lama ketimbang, jalur internasional (kan lumayan bisa ke Swiss dan Jerman hahaii ) Di Strasbourg yang pada hari itu bersuhu minus 20 derajat celcius dan lembab. Dan aku pertama kali bertemu kakek nenek, kakek beneran orang asli Perancis, dan nenek beneran asli orang Jerman, aku memanggil mereka dengan “babar” dan ” mamu”, biasa untuk lebih akrab. Mereka benar-benar baik, dan ramah. Kemudian aku memulai cipika cipiki dengan mereka dan bercengkrama ria. Oh ya, satu kesamaan budaya Perancis dengan Indonesia, adalah ketika bertemu mereka selalu bercengkrama, tak lupa menyelipkan basa basi dan selera humor. Waktu bertemu dengan babar dan mamu, dan dipeluk mereka, rasanya aku jadi inget 7 tahun yang lalu ketika aku masih nonton telenovela “Rosalinda” dengan nenekku di Bandung, namun beliau telah tiada sekarang. Sedih deh rasanya. Tapi bagaimanapun di Perancis, aku telah memiliki keluarga baru, yang ngertiin aku disaat aku sedang sedih, homesick ataupun senang :D. Di Strasbourg, kami mempersiapkan pohon natal, membuat orang-orangan salju, main perang2an salju dan lain-lain. Ada sodara-sodara jerman dan Paris (Mathis, dan Claire) yang juga datang, sambil disitu aku berbincang bincang soal natal, menghias dekorasi dan lain-lain. Karena hostfamily-ku keturunan Perancis Jerman, aku jadi bisa belajar bahasa jerman sedikit2 seperti guten tag, guten morgen, alles gut! dan lain sebagainya. Mereka juga berbicara dengan bahasa Jerman, Perancis dan sedikit Inggris karena waktu itu inget banget ada anak exchange dari Australia juga yang kebetulan dihost sama sodara yang tinggal di Paris, namanya Lucy Hinton. Kalo menurut aku lucu aja aksennya, orang yang native languangenya bahasa Inggris, ngomong bahasa Perancis, layaknya orang Inggris yang ngomong bahasa Indonesia. Ketika malam natal tiba, kami bertukar bingkisan kado, aku dapet bingkisan kain rajutan serbet dari mamu hihi, sarung tangan, jaket, dan buku resep masakan kue-kue jerman dan perancis. Karena beliau tau aku senang memasak (untung aja kadonya bukan panci atau kukusan). Malam itu kami makan besar, kalian harus tau ketika natal tiba di Perancis, orang senang membuat kue-kue coklat, keju, dan karamel, layaknya kue nastar ketika lebaran di Indonesia. Benar-benar meriah! Dan kamipun memulai untuk memakan makanan yang super berat akan kalorinya itu -,-“
Terdiri dari tiga tahapan: plat (makanan pembuka) , le fromage (keju) , dan le dessert (penutup). Setiap keluarga Perancis memiliki tradisi makanan yang berbeda, malam natal itu kami memakan makanan pembuka dengan couscous (burung turki, dengan macam-macam sayuran, ditambah gandum sebagai makanan pokoknya, dan saus pedas). c’était vraiment delicioux! setelah itu kami memakan berbagai makanan keju, dari yang bau kaos kaki, sampai engga berbau (jujur sih kalau aku lebih milih keju comté yang bener2 enak engga berbau) untuk dimakan dengan roti baguette (roti perancis yang panjang bentuknya kaya tongkat baseball), dan akhirnya kami makan makanan penutup yaitu la forêt noire (kue blackforest). Sebenarnya kue blackforest adalah makanan khas jerman. Yaa namanya keluarga Perancis Jerman. Tak lupa kebiasaan bersulang dengan wine! (Aku sih engga minum, jus jeruk sudah cukup, makasih) Sehabis itu foto2 deh, sesembari melihat keluar jendela, salju turun lebat malam itu, bener2 didalem rumah IGLO! Tapi malem itu bener2 ngelekat banget, pengalaman ngerayain natal di negara orang meskipun saya sendiri beda agama sama mereka. Je ne sais pas si je vais revenir encore en France, mais je crois que j’ai la meilleure vie cette année avec ma famille d’accueil! Hari keduanya aku mulai beraksi, memasakkan soto ayam untuk keluarga besar ini hihihihiihi, dengan dessert ala maroko, salad buah dengan kurma! namanya juga lagi misi bertukar budaya, bukan hanya aku saja yang diajarkan kebudayaan perancis, bagaimanapun aku bener2 harus aksi juga, hehehehe. Rasanya ketawa aja waktu itu inget disuruh babar setaun lagi ikut AFS buat tinggal dirumah mereka dan memasakkan soto ayam untuk mereka. Soto ayamnyaa berhasill yay!! Dan aku mulai bercerita tentang budaya dan karakter orang Indonesia yang beragam, dari yang namanya “gotong royong” juga. Oh ya Babar dan mamu pernah cerita tahun 1993, mereka pernah travelling ke Indonesia 1 bulan. Mereka pernah ke Bali, Jogja, Bandung, Surabaya, Medan, Jakarta, Makassar dan danau toba. Mereka juga masih nyimpen kamus bahasa Perancis bahasa Indonesia hahaha. Dan mereka cerita juga mencicipi buah duren, jeruk medan, dan nasi goreng (masih apal gela mereka nama “nasi goreng”). Sama mereka pernah bilang pergi ke Taman Mini, keliling2 berdua layaknya orang pacaran bedanya ini kakek nenek pake mobil keliling liat2 anjungan rumah2 tradisional indonesia) Yang aku pengen, mereka harus tau kebudayaan Asia dan Eropa itu beda banget, termasuk makanan2 Indonesia yang super enak. Dan aku coba memasakan soto ayam, sate ayam, nasi goreng, ikan laut bumbu kuning dan lumpia basah. Pada akhirnya cocok dilidah mereka wokokokokokokokookokok (bayangan aku sebelumnya mereka gabakalan suka, orang Eropa … taunya, ckckckck.. psssssttt ..nasi satu bakul aja abis). Andasekalian kalau ngeliatin kebiasaan orang Eropa secara langsung yang engga lumrah, pasti bikin nahan ketawa sambil ketok2 meja (sebenernya sih waktu itu saya senyum2 aja nahan ketawa..)
Keesokan harinya aku bersama hostfam, jalan jalan ke Jerman, untuk merayakan festival natal di Gengenbach sampe malem. Bener2 cantik dengan rumah2 tradisonal Jerman, ada boneka Santa Clause, dekorasi pernak pernik, badut natal, festival musik, dan lampu2 natal dan pohon natal raksasa. Aku, Carole,Sophie, Mathis, Lucy, dan Claire menaikki “kora-kora” sambil ketawa2, inget banget hampir keselek. Setelah itu kami kembali ke Perancis, mengelilingi kota Strasbourg, bener2 cantik banget dengan sungai yang mengalir dan salju2, burung2 merpati yang bertrbangan dan lampu2 yang menyorot kearah bangunan2 tua antik.Tak lupa Kamipun mengunjungi tempat pembuatan film Sherlock Holmes 2 yang ternyata di Strasbourg juga. God, I feel that I’m too lucky. That’s all! :’D

Strasbourg



Kami dan festival natal di Jerman
Ketika ulang tahunku yang ke 17 tiba…
Gapernah kepikiran Allah ngasih kado ultah yang engga bernilai diumur 17 tahun ini. PERANCISS!!! :’D Yang aku inget waktu kecil, aku akan berumur 17 namun aku akan merayakannya bersama keluargaku di sebuah restoran, sama spesialnya sih cuma gakepikiran aja bisa dirayain bareng2 sama orang eropa seperti diumur 17 tahun ini. Aku mulai memiliki mimpi bisa kuliah ataupun pergi ke Eropa ketika masih SD kelas 6. Rasanya iri banget ada sodara atau temen2 yang bisa pergi ke Eropa atau travelling, tapi gatau kenapa semenjak saat itu aku punya feeling kuat banget aku akan pergi ke eropa entah kapan. Normalnya anak kecil yang punya sejuta impian, akupun giat mempelajari bahasa inggris, geografi, dan sejarah Eropa. Yaps, pergi ke eropa itu impian aku sejak kecil, kepengennn banget. Tapi aku percaya yang namanya wonderful life. Meskipun IQ pas pasan, ga terlalu extraordinary juga, kata kakek bilang, semangat lebih memberikan banyak hal dari sekedar talent dan IQ tinggi! So, What else? Why have you somethin’ worry about? :) Ketika malam tanggal 18 Januari, aku diberi kejutan oleh hostfamku dengan kue tart coklat yummyy!! wuihhi le gâteau chocolat! Kebetulan yang buatin Sophie! mereka langsung bilang joyeux anniversaire, Raita! on souhaite que tu es contente pendant en France, en Europe surtout! Dan sms dari teman2, dengan ucapan selamat ulang tahun. Dinyanyiin lagu “joyeux anniversaire” selorong sekolah! It was unforgettable moment that I’ve ever had :) Malam itu setelah melaksanakan shalat Isya dan menghatamkan Al-Baqarah, akupun memanjatkan doa dan rasa syukur itu…
Sekolah, guru dan teman!
Aku memilih kelas prémière Scientific engineering. Dan bertemu dengan guru2 yang super baik denganku, terkadang aku ajak ngobrol dan becanda seperti yang aku lakukan sebagai orang Indonesia. Aku suka guru perancis, sejarah, dan kimia fisika, karena seringkali mereka menawarkan bantuan untukku, dan menanyakan bagaimana kabarku ketika bertemu. Ada satu hal ganjil, guru bahasa Inggrisku nampaknya tidak begitu senang denganku, karena aku selalu memperoleh nilai mata pelajaran bahasa Inggris terbaik diantara teman-teman Perancisku, entah mengapa. Namun Cecile, hostsisterku pernah bilang, guru bahasa biasanya kurang begitu suka ada siswa asing dikelasnya, karena takut tersaingi pengetahuannya, tapi yasudahlah.. aku mencoba jadi diri aku dimanapun berada. Yang jelas bukan salahku. Alhamdulilah dikelas ini, aku bertemu banyak teman yang menarik, dan sering memperoleh nilai tertinggi seangkatan dalam mata pelajaran bahasa Inggris, kimia, dan fisika. Nama sekolahku adalah Lycée du grésivaudan Meylan. Dan disini aku bertemu dengan banyak teman Perancis entah didalam kelas, diluar kelas, maupun kelas film ; Ségolène, Marine, Laura, Ambre, Anne, Emilie, Sarah, Carolina, Nina Jeremy,Coraline, Clara, Arthur, Loïc, Dalia, Sky, Rebecca, Denise, Jeanne, Guy, Florent, Fabianà, dll. Kadangkala kami sering bercanda, pergi ke kantin bersama,nonton bioskop bersama, jalan bersama, dan makan bersama, awalnya sulit untuk berintegrasi dengan orang perancis asli karena faktor bahasa, namun karena pembiasaan hari demi hari, akupun berhasil, dibilang mudah? engga sama sekali. Just be yourself, itu aja modalnya. Kalo aku lagi sedih karena merasa Perancisku ga maju maju, beberapa dari mereka berusaha menghiburku, mencoba memelukku dan memberikan bunga rose! Mereka caring banget Allah. Di Perancis aku menemukan sahabat seperti mereka :) Terakhir ketika hari terakhir Sekolah, aku membagi bagikan kue nastar gratis, dan mereka ngasih kejutan berupa kenang2an untukku, Bendera perancis, buku novel tentang kisah org asing yang tinggal di perancis dengan tanda tangan dan ucapan message dari mereka, (We love you raita, we hope you come back, We are waiting, We will miss you, We never forget you <3) dan yang pasti meaningfull banget. Bikin aku berlinang air mata. Buat aku, mereka engga cuma temen bule, kenalan gara2 exchange student, mereka bener bener sahabatku disaat aku senang dan susah :’)
Paris dan Québécois
Waktu itu aku inget banget, ketika liburan musim semi awal dua minggu, aku menghabiskan waktu liburan di Paris bersama keluarga angkat lain (selama liburan doang, soalnya ayah dan ibu angkatku berangkat kerja, Cecile bersama teman2nya, begitu juga Sophie dan Carole, yang entah sibuk mengurusi suatu projek sekolah dengan teman2nya otomatis aku cuma sendirian dirumah) yaps, oke, aku berangkat ke Paris dengan kereta TGV, sendirian. 3 jam. Wuihihihihihi, betapa senangnya diriku ketika aku ternyata menghabiskan liburan musim semi di Paris. Pake kereta TGV, bakal mengunjungi La Tour eiffel, Museum Louvre (yang ada lukisan monalisanya), Notre dame de Paris, avenue Champs élysée (dimana tempat ini adalah avenue yang paling disorot kamera dunia dengan toko2 Channel, gallery lafayette), l’arc de triophe, menonton pertandingan match Hokkey antara Perancis dan Kanada, di Bercy, La Place Concorde, dan tentu aja pergi ke restoran Indonesia yang terletak di Paris. Dan yang paling menarik lagi, di paris itu aku dan keluarga yang lain ini akan menaiki Métro (kereta dalam kota yang terletak underground). Begitu nyampe di stasiun Paris gare de Lyon akupun terkejut melihat keluarga angkatku yang akan menghostku selama liburan. Mereka adalah Québécois. Tahukah anda sekalian québécois apa? Québécois sebenernya adalah orang kanada, yang tinggal di bagian timur kanada. Karna kita tau sebenernya di kanada itu punya 2 official languanges. Inggris dan Perancis. Bagian barat seperti Vancouver, dan Ottawa (yang sebenernya terletak dibagian timur) adalah english speaking, sedangkan dibagian timur: kota Québéc, Montréal, dan lain lain, mereka french speaking. Kebetulan Québécois menurut definisi Perancis adalah orang asli Québéc yang ngomong bahasa Perancis. Meskipun wajah mereka amerika banget. Dan katanya aksennya beda banget sama Perancis asli, mereka juga terkenal cool yang hidupnya jarang stress dan aku harus menemukan bagaimana cara hidup orang Québécois. Perkenalkan; mereka bernama Sylvie dan Denis, mereka memiliki 4 anak, 3 anaknya berada di Kanada untuk kuliah, sedangkan 1 anaknya bernama Pascale sedang AFS di USA setahun. Otomatis mereka cuma tinggal berdua di Paris. Oh ya mereka sedang bekerja di Paris, itulah alasan kenapa mereka bukan tinggal di Kanada.
Kamipun mulai menelusuri kota Paris bersama sama, dari La Tour Eiffel, masuk ke museum Louvre, ke gereja Notre dame de Paris, shopping di avenue Champs Elysée, Ke kastil Versailles, ke gate l’arc de Triomphe, La place Concorde, l’arche de la Defense, La Bastille, dan lain lain, sampe ngeliat Menara Eiffel di malam hari dengan lampunya yang kelap kelip disepanjang menaranya ohh God, It was soo beautifull! Dan tentu aja kemana mana naik Métro! hehehehe, tapi jujur didalem Métro itu bau, banyak orang, sumpek, dan underground juga. Sempet ditanya sama Denis, di Jakarta ada métro ga kaya gini? aku jawab; ada, metromini namanya. Denisnya langsung ngangguk2 aja wokokoookokokk. Metromini yang dimaksd sebenernya bukan kereta bawah tanah kaya di paris, namun bis bis kopaja. Waktu itu kami nonton pertandingan match Hokkey antar Perancis dan Kanada, yang akhirnya berakhir dengan skor 2-3. Sylvie dan Denis yang ancang2 dari awal membawa bendera besar Kanada, sontak berteriak bahagia, karna yang menang emang Kanada. Oh ya sekedar memperkenalkan, Kanada hebat dibidang olahraga Hokkey, negara ini selalu menang dalam pertandingan match hokkey dunia. karena olahraga ini sangat populer di Kanada. Sedangkan untuk Perancis sendiri, permainan ini kurang begitu populer, sehingga wajar saja, kanada yang selalu menang, pemain2nnya pun konon, berstatus miliarder karena dibayar sangat sangat sangat mahal. Setelah itu kami bersama sama pergi ke restoran Indonesia. Sumpah sedih banget begitu denger restoran Indonesia berjumlah cuma dua doang di Paris :’( Kamipun memasuki restoran Indonesia yang etrletak di tengah Paris.
Kamipun duduk, dan dateng pelayan mas mas yang katanya fasih berbahasa Perancis dengan logat Jawanya itu, menghampiri kami:
Masmas: Bonjour! Selamat malam! (with Indonesian udah gitu lanjut lagi pake bahasa Perancis) Ini menunya, silahkan dipilih!
Sylvie: Anak ini orang Indonesia, dia bisa ngomong bahasa Indonesia.
Aku: Mas, saya org Indonesia, mas! (dengan direct speak bahasa Indonesia, biar gabasa basi)
Masmas: (kaget langsung ngomong bahasa Perancis Indonesia) wah, orang mana? orang mana mbak?
Aku: saya orang sunda-betawi, lahir dibandung.
Masmas: Wah pantesan orang bandung, ada cina cinanya
Aku: (kesal) -,-” Wah mas saya orang bandung, tapi saya bukan orang cina, muka oriental saya aja yang penipu. Tapi untung aja, saya bukan putri yang tertukar…
Masmas: (bingung)
dan conversation antar kamipun dimulai, disitu terlihat kelucuanpun muncul;
Denis: Apa bahasa Indonesianya, bonjour?
Masmas: selamat siang!
Aku: Mas, bulenya jangandigituin mas, kasian. *tepokjidat
Masmas: ya! selamat pagi!
Denis dan Sylvie: hahh??? (innocent, mampuslu, gangerti, kicep)
(masmaspun langsung pergi kedapur, dengan muka sedikit malu, dan akupun mulai ngejelasin dengan Sylvie dan Denis)
Aku: monsieur itu hanya nyoba ngelawak, maaf. (Aku cuman mau ngejelasin, takutnya Sylvie dan Denis mikir hal yang engga engga tentang masmas itu)
Sylvie: aduh, makasih raita! makasih! (sambil membuang napas lega)
dari sini sebenernya ketawan kalo lawakan Indonesia belom tentu cocok sama orang bule, jadi hati2 kalau mau ngelawak khas Indonesia dengan orang bule.
Masmas: (dateng lagi, tak pantang menyerah, demi pekerjaan dan misi Indonesia juga)
dari situ kami memulai memesan makanan dan mengobrol dengan masmas tadi, canda dan tawapun dimulai. Dan kamipun memesan makanan padang, dengan rendang jahe, cumi, dan gurame, sayuran acar, dan gulai kepala kakap. Anda harus melihat bagaimana Denis, orang kanada yang berwajah keamerikaan, makan nasi padang pake tangan (aku sebenernya yang nyuruh) wokokokookokokokokkkokokokok Subhanallah! Allahuakbar! Hidup Indonesia!!
Setelah itu mereka mengaku makanan Indonesia emang oke! dan kamipun membayar makanan ketika diakhir. Masmas tadipun datang lagi. Sambil mengobrol dengan kami, dan masmaspun mulai berkata: “Orang Québécois emang cool katanya! manier hidupnya jarang stress kalo orang Perancis bilang”
Denis dan Sylvie pun hanya bisa ketawa
Aku jadi teringat apa kata ibu angkatku Pascale, bahwa orang Québécois atau orang Kanada jauh lebih cool manier hidupnya daripada orang perancis yang selalu lebih stress
Sylvie langsung bilang sama aku bahwa orang Québécois itu seperti asterix. Mereka jarang jaim,mencari hal hal baru, menerima keadaan hidup apa adanya, dan mau menonjolkan sosok Childishnya. Menurut aku sendiri sih bagus, kalo orang yang mau terkadang menonjolkan sosok Childishnya. Ga terlalu serius, ga terlalu kaku, ga terlalu gila juga. “Normal, dan inilah hidupku, cukup jadi diri sendiri dan gabanyak basa basi, gabanyak ribet”. Dan mereka tentu aja sangat menyenangkan jika diajak mengobrol dan melawak.
Sylvie: raita, apa bahasa Indonesianya dari merci?
Aku; terima kasih!
Sylvie: Bolehkan kami mengundang orang dari kanada untuk datang ke restoran ini lagi suatu saat?
Aku: tentu aja kenapa engga?
Sylvie: terima kasih (In Indonesian) sambil menampakkan senyum
Kamipun mulai melanjutkan ngobrol2 dengan masmas tadi dengan canda, dan tawa, hingga malam pun larut juga. Setelah waktunya pulang, dan bersalaman dengan masmas tadi sambil bilang “au revoir”. Kami kembali ke apartement Sylvie dan Denis.
Hari haripun kami jalani bersama, sambil mengobrol dan memasak bersama. Orang Québécois memang benar2 menarik dan menyenangkan..
Orang perancis, cenderung mengatakan apa yang ia pikirkan, kalo bilang engga, ya engga direct! cuman kaya gunung berapi! ENGGAK!
Orang kanada, cenderung mengatakan apa yang ia pikirkan, cuman bilang ENGGAKnya liat situasi dulu (misal ada ditawarin kue oleh orang yang udah bikin tujuh hari tujuh malem, masa mau bilang enggak? gara gara ga enak kuenya) beda banget sama orang perancis yang jauh lebih tegas, dan lebih ribet.
Setelah liburan musim semi berakhir, akupun mulai mengucapkan perpisahan kepada Sylvie dan Denis di stasiun kereta untuk siap pulang ke Grenoble, tentu saja dengan pelukan, cipika cipiki, dan senyum tulus. Didalam kereta TGV yang aku tumpangi, sambil memandangi pemandangan diluar jendela, akupun mulai berlinang air mata. Dan aku benar benar akan merindukan mereka.. Pengalaman yang aku bagi bersama keluarga Québécois itu, bener2 ngena banget di hati. Dan tentu aja, Paris.. bukan sekedar kota yang cantik, tapi kota yang bener2 ninggalin banyak bercak warna dihati..
Setiap pertemuan pasti ada yang namanya perpisahan -Anonim
(untuk foto2 yang lain, dalam lembar selanjutnya akan ditampilkan)